Cara Memilih Jenis Investasi yang Tepat Sesuai Kebutuhan

Posted on Dec 7 2020 - 12:19pm by Diana Suciawati

Banyaknya instrumen investasi yang ada di pasar mungkin bisa membuat kita kebingungan bila kita tidak tahu cara memilih jenis investasi yang tepat sesuai kebutuhan. Jangankan untung, mungkin alih-alih malah buntung.

Dengan mempelajari berbagai jenis investasi beserta risiko dan imbal hasil investasinya, kita bisa menyesuaikannya dengan tujuan keuangan yang kita miliki, seperti menabung untuk dana pendidikan, dana pensiun, membeli aset, ataupun untuk traveling. Selain itu, saat memilih jenis investasi, kita juga harus menyesuaikannya dengan profil kita, agar kita dapat berinvestasi dengan tenang dan mendapatkan hasil yang optimal.

Pengertian Investasi

Pertama-tama, kita harus dapat membedakan investasi dengan instrumen keuangan lainnya. Investasi, pada dasarnya, adalah penanaman modal atau usaha pada suatu instrumen dengan harapan akan mendapatkan keuntungan finansial dalam periode tertentu. Berbagai data dan analisis digunakan sebagai penilaian awal sebelum melakukan investasi, sehingga, idealnya, investasi dilakukan dengan sudah memperhitungkan risiko tertentu yang dapat ditanggung oleh investor. Karena itu, investasi haruslah dilakukan secara sadar oleh investor berdasarkan pengetahuan dan keputusannya sendiri.

 

Jenis Investasi

Karena itu, mari kita mengenal beberapa jenis investasi yang dapat dengan mudah ditemui di pasar dan bisa menjadi pertimbangan saat memilih jenis investasi.

Deposito

Deposito adalah investasi sederhana dalam bentuk produk simpanan di bank yang menjanjikan suku bunga tetap dalam jangka waktu tertentu. Bedanya dengan tabungan biasa adalah, suku bunganya lebih besar dan pokok hanya dapat diambil setelah periode waktu tertentu. Deposito dikenakan pajak 20%.

Seiring dengan kemajuan teknologi di bidang perbankan, mulai banyak bank yang menawarkan deposito yang dapat dibuka dan dicairkan secara online, sehingga kita tidak perlu repot-repot ke bank untuk berinvestasi. Kemudahan ini menjadikan deposito sebagai salah satu instrumen ideal untuk menyimpan dana darurat, tentunya dengan tenor maksimal 1 bulan saja.

Surat Berharga Negara (SBN)

Ada beberapa jenis surat berharga negara atau surat utang negara, yang umumnya lebih dikenal dengan obligasi, seperti ORI, SBR, Sukuk Ritel, Sukuk Tabungan, seri FR, seri INDON, dll.

Surat berharga ini umumnya ditawarkan oleh dan dapat dibeli di bank tertentu, dan menawarkan kupon (keuntungan) berkala yang umumnya lebih tinggi daripada deposito, dan nilai pokok investasi dikembalikan saat jatuh tempo — umumnya 2-3 tahun untuk obligasi retail. Beberapa SBN juga dapat diperdagangkan sebelum jatuh tempo, sehingga Anda dapat mengambil pokok investasi bila diperlukan — tentunya dengan peluang keuntungan / kerugian sebagai selisih harga jual dengan harga investasi awal. Hasil kupon SBN dikenakan pajak 15%.

Secara return atau imbal hasil, keuntungan SBN lebih tinggi dan tidak kalah aman dibanding deposito karena dijamin oleh pemerintah Indonesia, sehingga cocok untuk investasi jangka pendek atau menengah bagi profil risiko konservatif.

Reksadana

Reksadana adalah dana kumpulan investor yang dikelolah oleh Manajer Investasi dalam instrumen investasi tertentu. Berbeda dengan deposito dan SBN yang imbal hasilnya berupa pendapatan bunga, imbal balik reksadana adalah berupa keuntungan atau kerugian dari pokok dalam periode tertentu, atau biasanya disebut dengan capital gain/loss. 

Harga reksadana tercermin dari harga unit penyertaan yang dapat kita beli mulai dari Rp.100.000,- saja; bahkan ada beberapa reksadana yang dapat dibeli mulai dari Rp.10.000,-, sangat terjangkau untuk sebuah investasi, bukan? Selain harga unit penyertaan, beberapa reksadana memiliki biaya beli atau jual berupa persentasi dari harga unit, mulai dari 0 hingga maksimal 5%.

Ada beberapa jenis reksadana sesuai portofolio instrumen investasinya, yaitu:

  • Reksadana pasar uang (RDPU), di mana sebagian besar portofolionya terdiri dari deposito berjangka, Sertifikat Bank Indonesia, obligasi yang jatuh tempo di bawah 1 tahun, ataupun instrumen pasar uang lainnya. RDPU memiliki imbal hasil yang biasanya lebih besar daripada deposito biasa, dan cocok untuk investasi di bawah atau hingga 1 tahun. Karena itu, RDPU juga cocok dijadikan instrumen keuangan untuk menyimpan dana darurat.
  • Reksadana pendapatan tetap (RDPT), di mana minimal 80% portofolionya terdiri dari obligasi / efek utang yang memberikan imbal hasil secara rutin yang biasanya lebih besar daripada RDPU. Agar mendapatkan return yang optimal, RDPT dapat digunakan untuk tujuan keuangan yang ingin dicapai dalam 1-3 tahun.
  • Reksadana saham (RDS), di mana minimal 80% investasinya ditempatkan di pasar modal atau di saham-saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia. Jadi bila Anda tidak memiliki waktu untuk memantau harga saham untuk investasi, RDS adalah pilihan tepat untuk berinvestasi di pasar modal. Dengan return hingga 20% per tahun, RDS hanya cocok untuk investasi jangka panjang (minimal 5 tahun, semakin panjang semakin bagus) mengingat volatilitas harga saham di pasar modal dalam jangka waktu pendek.
  • Reksadana campuran (RDC), yang portofolionya terdiri dari campuran instrumen keuangan di pasar uang, pasar modal, dan obligasi. RDC ini cocok untuk investasi dengan jangka waktu 3-5 tahun, tergantung dari komposisi portofolionya.

Reksadana dapat dibeli di berbagai bank, lembaga keuangan online maupun offline, salah satunya adalah Bareksa. Pencairan reksadana dapat dilakukan pada hari kerja dan membutuhkan waktu antara 1-2 hari kerja.

Investasi saham

Selain melalui pembelian reksadana, investasi saham juga dapat dilakukan secara langsung di pasar modal dengan membuka rekening saham di sekuritas, menyiapkan dana investasi, dan mulai belajar cara membeli dan menjual saham. Keuntungan atau kerugian investasi saham juga berasal dari selisih harga jual dan beli (capital gain/loss) dan lebih cocok dilakukan untuk mencapai tujuan keuangan jangka panjang.

Dengan membeli saham, kita memiliki porsi kepemilikan di perusahaan yang sahamnya kita beli; dengan kata lain, saat kita ber-investasi di perusahaan tersebut, kita akan turut mendapatkan keuntungan ataupun menanggung kerugian dari kinerja perusahaan tersebut. Karena itu, investasi saham berbeda dengan trading saham, yang keduanya pun memiliki pendekatan dan teknik berbeda dalam pelaksanaannya.

Investasi saham memerlukan pengetahuan lebih tentang pasar modal, termasuk cara memilih saham yang mau dibeli dan alasannya, kapan harus membeli dan kapan harus menjual suatu saham, hingga cara menggunakan berbagai fitur platform dari sekuritas. Karena itu, bila Anda ingin berinvestasi saham, luangkan waktu untuk mempelajarinya dengan lebih lanjut. Hanya bila dilakukan dengan serius dan benar, berinvestasi saham dapat memberikan return yang cukup besar.

Peer to peer lending

Investasi ini menuai pro dan kontra, namun kami akan mencoba membahasnya secara objektif. Peer to peer lending (P2P) adalah metode yang menghubungkan peminjam dan pemberi pinjaman secara online, dengan hasi return berupa pendapatan bunga. Jangka waktu peminjaman dapat dipilih oleh pendana, mulai dari di bawah 1 bulan hingga 12 bulan, dengan tingkat suku bunga yang bervariasi; biasanya, semakin panjang tenornya, semakin tinggi bunganya.

Ada banyak fintech dan platform P2P yang tersedia di pasar, namun tidak banyak yang diawasi dan berijin OJK. Berbagai fintech tersebut juga memiliki prosedur dan kebijakan yang berbeda dalam mengevaluasi kelayakan peminjam, yang berpengaruh terhadap Tingkat Keberhasilan Bayar (TKB) Totalnya. Karena P2P lending termasuk investasi berisiko tinggi dengan risiko gagal bayar, sebaiknya dipelajari dengan saksama sebelum mulai berinvestasi pada fintech tertentu.

Memilih Jenis Investasi

Apapun jenis investasi yang Anda pilih, ingatlah bahwa tidak ada satupun investasi yang bebas risiko, dan frase “high risk, high return” itu nyata adanya. Karena itu, manajemen risiko yang benar mutlak diperlukan agar dapat berinvestasi dengan aman. Jangan lupa untuk selalu memeriksa legalitas suatu lembaga keuangan, apakah terdaftar di OJK, mengantongi ijin OJK atau ijin lain yang diperlukan, dsb. Dengan begitu, risiko yang dihadapi akan semakin kecil, meskipun risiko itu tetap ada.

Agar dapat memiliki pondasi keungan yang kuat, sebelum berinvestasi, mulailah menyusun pondasi keuangan dari dasar secara berurutan, yaitu:

  1. Manajemen keuangan yang baik
  2. Memiliki dana darurat (emergency fund)
  3. Memiliki proteksi (asuransi)
  4. Merencanakan tujuan keuangan dan cara mencapainya (investasi)
  5. Menumbuhkan aset (spekulasi)

Saat memilih jenis investasi, sesuaikan dengan jangka waktu dan return yang ingin dicapai dalam tujuan keuangan, namun tetap harus sesuai kemampuan. Bila target yang ingin dicapai belum dapat dilakukan, carilah cara untuk menekan pengeluaran, atau menghasilkan pendapatan tambahan; bila masih tidak memungkinkan, cobalah untuk merombak kembali tujuan keuangan Anda agar lebih realistis dan sesuai kemampuan.

Baca di sini untuk Cara Mengatur Keuangan Keluarga.

Tunggu apa lagi? Yuk, mulai belajar untuk berinvestasi!

About the Author
Diana Suciawati Diana adalah kontributor di komunitas Mommy's Helper Bali yang fokus di pengelolaan konten website komunitas, yang juga seorang penulis lepas dan finance-enthusiast. Bersama suami dan kedua putrinya, ia sering membagikan kisah dan tips seputar keluarga lewat sosial media Smell Like Home Travel Blog serta podcast mereka di Spotify.
Please follow and like us:
error20

Leave A Response