Melatih Disiplin dari Hati dengan Metode Disiplin Positif (1)

Posted on Mar 9 2017 - 8:37am by Mommy's Helper Bali

Ada sebuah metode disiplin yang tidak hanya mengoreksi  perilaku buruk anak, tetapi juga membentuk karakter dan hati anak. Tidak hanya itu saja, metode disiplin ini juga mengajak orang tua dan pendidik untuk menilik karakter, hati dan perilaku sehari-hari yang mempunyai dampak terhadap anak. Pada saat yang sama, metode disiplin ini juga melatih anak untuk mempunyai tanggung jawab, memiliki rasa hormat dan memberikan kontribusi positif pada lingkungan sekitarnya. Metode ini disebut dengan Disiplin Positif.

Disiplin Positif

(c) Sekolah Stella Mundi

Metode disiplin lainnya, kebanyakan hanya berusaha mengoreksi perilaku buruk pada anak. Seperti teknik time out yang biasanya bersifat reaktif. Artinya, teknik tersebut hanya diterapkan ketika anak berperilaku buruk. Pernahkan Anda menerima perlakuan time out oleh anak Anda sendiri? Kemudian Anda frustasi karena ia menggunakan metode yang seharusnya memberikan efek jera kembali kepada Anda.

 

Metode Disiplin Positif

Dikembangkan oleh dua peneliti Australia, psikiater dan pendidik asal Austria Rudolf Dreikurs serta dokter dan psikoterapis Alfred Adler, metode Disiplin Positif menekankan pentingnya mengembangkan keterampilan hidup dan cara bersosialisasi berasaskan saling menghormati bagi anak dan orang dewasa. Disiplin yang positif mendorong anak untuk memilih perilaku baik hati dan saling menghormati, bukan karena insentif atau hukuman, tapi karena motivasi yang datang dari dirinya sendiri.

Berbagai penelitan mengenai perkembangan anak menemukan bahwa anak telah dibentuk oleh Sang Pencipta untuk membangun hubungan dengan lingkungan dan komunitas di sekitar mereka. Anak yang mempunyai rasa memiliki dalam komunitas mereka – dimulai dari lingkungan keluarga hingga sekolah – akan memiliki perilaku yang baik.

Disiplin yang positif mengandung pandangan bahwa disiplin itu harus diajarkan dan disiplin itu melatih. Artinya, disiplin yang positif pertama meminta kita sebagai orang tua dan pendidik untuk menumbuhkan rasa saling menghormati. Sebagai orang dewasa, kita harus terus menjadi panutan dalam menunjukkan komitmen dan keteguhan (firmness) dengan menghormati diri kita sendiri dan kondisi situasi yang dihadapi, serta menunjukkan kebaikan (kindness) dengan menghormati kebutuhan anak.

 

Metode yang Efektif

Disiplin positif tidak melihat perilaku anak yang buruk sebagai upaya untuk membuat hidup orang tua menjadi lebih sulit, tapi merupakan a cry for help. Dengan mengidentifasi penyebab perilaku buruk pada anak, metode Disiplin Positif menjadi efektif, karena metode ini mengenali penyebab kenapa anak berperilaku demikian dan berupaya untuk mengubah permasalahan dari akarnya.

Metode ini berbeda dengan kebanyakan metode lain, yang berusaha mengoreksi perilaku yang timbul tanpa mengenali alasan dibalik perilaku tersebut, sehingga seolah anak sedang mendapatkan hukuman. Misalnya, “Karena kamu tidak mau mandi, maka kamu tidak boleh main.” Metode seperti ini tidak efektif.

Disiplin Positif mengajarkan keterampilan hidup dan bersosialisasi yang membentuk karakter-karakter seperti: rasa hormat, kepedulian terhadap sesama, memecahkan masalah, menumbuhkan rasa tanggung jawab, mengajarkan anak untuk berkontribusi dan bekerjasama. Metode Disiplin Positif ini mengundang anak untuk mengenal kemampuan mereka dan bagaimana menggunakan perilaku mereka dengan cara yang positif dan membangun.

 

Fokus Mencari Solusi

Jadi, walaupun Disiplin Positif tidak menghukum, bukan berarti metode ini memperbolehkan anak berlaku semaunya. Praktek metode Disiplin Positif yang tepat menumbuhkan rasa hormat dan tanggung jawab karena fokusnya adalah mencari solusi; bukan menghukum.

Apakah mudah menerapkan Disiplin Positif? Berdasarkan pengalaman saya sebagai pendidik dan orang tua: TIDAK. Disiplin Positif tidak memberikan solusi untuk semua permasalahan dan bukan teknik yang instan. Mengapa? Karena setiap anak unik dan berbeda, karena setiap dinamika keluarga dan hubungan antara orangtua dan anak berbeda. Disiplin Positif adalah investasi dalam hubungan jangka panjang orang tua dengan anak dan merupakan sebuah proses yang menghormati dinamika hubungan setiap keluarga.

Pada artikel berikutnya, saya akan membagikan beberapa pengalaman pribadi saya sebagai orang tua dan pengalaman profesional saya sebagai pendidik dalam menerapkan metode Disiplin Positif dalam beberapa kasus nyata.

Baca artikel serial parenting lain di tautan ini.

 

Kontributor

Sabrina Tumewu, LL.B, B.A (Med&Comm), PGCertPT, adalah seorang ibu yang selalu haus akan ilmu dan pengalaman mengenai parenting. Setelah 10 tahun berkecimpung di dunia hukum dan media komunikasi di Australia dan bekerja dengan institusi bereputasi internasional seperti ABC (Australian Broadcasting Corporation), Australia-Indonesia Centre dan Monash University, Sabrina dan suaminya pindah ke Bali untuk cuaca tropis yang bersahabat untuk anaknya. Kepeduliannya yang berawal dari anaknya memicu ketertarikannya akan pendidikan anak dan parenting. Dia kemudian beralih profesi menjadi terapis bermain dan pendidik. Bersama suaminya yang memiliki pengalaman di dunia pendidikan Australia selama lebih dari 12 tahun, dia membuka Sekolah Stella Mundi yang memberikan pendidikan holistik dan terintegrasi di daerah Renon.
About the Author
Mommy's Helper Bali Mommy’s Helper Bali (MH Bali) merupakan komunitas para ibu di Bali yang ada sejak tahun 2012, dan bertujuan untuk menjadi wadah para ibu untuk sharing dan saling membantu dalam keseharian. Website ini dibuat sebagai bentuk realisasi dari visi MH Bali agar komunitas ini dapat berguna dan menjadi pengaruh positif untuk masyarakat luas melalui informasi yang dapat diakses oleh semua pengguna internet. Artikel di website ini ditulis oleh beberapa member MH Bali. Kami juga menerima kontribusi artikel, hubungi kami untuk info lebih lanjut.

Leave A Response