Lip Tie dan Tongue Tie pada Bayi

Posted on Jun 8 2016 - 1:01pm by Mommy's Helper Bali

Lip Tie dan Tongue Tie pada bayi baru lahir adalah kelainan bawaan pada pita lidah. Hal ini tidak hanya berdampak bagi bayi, namun juga bagi ibu. Misalnya saja pelekatan yang tidak sempurna antara mulut bayi dan payudara, sehingga proses menyusu tidak berjalan efektif. Dengan demikian, puting ibu juga berpotensi menjadi lecet. Baca lebih lanjut tentang ciri-ciri, dan cara mengatasinya di bawah ini.

Lip Tie dan Tongue Tie pada Bayi

(c) doctorwhitley.com

Apa itu Tongue Tie dan Lip Tie?

Pada lip tie, terdapat jaringan lunak yang menghubungkan bagian dalam bibir atas dengan gusi atas, terletak di bagian tengah bibir. Sedangkan pada tongue tie, terdapat tali lidah yang tebal dan pendek yang menyebabkan dasar lidah melekat pada dasar mulut, sehingga gerakan lidah terbatas dan susah menjulur panjang.  Keadaan ini membuat si bayi sulit melekat secara benar dengan payudara sang ibu sehingga tidak bias mentransfer cukup ASI ke dalam mulutnya. Oleh karena itu, harus dilakukan insisi (pemotongan). Tapi sebenarnya tidak setiap kasus harus melakukan insisi tergantung dengan pertimbangan DSA-nya masing-masing.

Lip tie dan Tongue tie ini adalah salah satu kasus yang bisa mengganggu proses menyusui ASI ekslusif secara langsung.

Ciri-ciri Lip Tie dan Tongue Tie pada Bayi

 “wajar kali kalau menyusui setengah jam sekali, kasih aja selama debaynya mau menyusui”

“mungkin kamu ASI nya kurang kali, makanya nangis terus bayinya, sudah ditambah susu formula aja”

Mungkin ada beberapa ibu-ibu yang pernah mendapat komentar seperti ini selama proses menyusui ASI. Saya sendiri mengalaminya, bayi saya suka menangis karena kelaparan setiap setengah jam atau satu jam. Kalau yang berfikir positif pasti menganggap bayinya rakus karena memang ada bayi yang bawaannya lapar tapi tanda-tanda ini juga ternyata harus diwaspadai karena mungkin saja anak kita mengalami lip tie dan tongue tie. Kalau hal ini tidak ditanggapi secara tepat, kemungkinan si kecil akan tersedak saat menyusui seperti yang saya alami sendiri.

Lip Tie pada Bayi

(c) doctorwhitley.com

Lip Tie pada Bayi

 

Lip Tie dan Tongue Tie pada Bayi

(c) doctorwhitley.com

Tongue Tie pada Bayi

 

Selain ciri-ciri yang saya alami, ada ciri-ciri lain yang harus diwasapadai, yaitu:

  1. Baik pada kasus lip tie maupun tongue tie, si ibu akan mengalami kesakitan saat menyusui karena perlekatan yang tidak sempurna saat bayi menyusui, biasanya juga disertai dengan puting lecet
  2. Pada kasus lip tie, terdapat lecet pada bibir atas si bayi (lip blaster). Selain itu, dapat menyebabkan gigi bayi tumbuh merenggang jika tidak diinsisi.
  3. Pada kasus tongue tie, kalau sudah besar, bisa berpotensi cadel pada cara bicaranya.

Bayi yang mengalami kelainan lip tie dan tongue tie akan sering lapar bahkan mungkin sampai tersedak karena dia sulit untuk menyusui secara benar, walaupun beratnya tidak menurun tapi kalau tidak dinsisi (dipotong) bisa menyebabkan penurunan berat badan ke depannya. Lip tie dan tongue tie ini sebenarnya kemungkinananya lebih banyak terjadi pada anak laki-laki yang pertama, jadi perbandingannya terjadi pada anak perempuan pertama adalah 4:1.

Cara Mengatasi Lip Tie dan Tongue Tie

Proses insisi pada kasus lip tie dan tongue tie dilakukan dengan sangat cepat dan tidak sakit bahkan ada beberapa dokter yang bisa melakukan prosedur ini di ruangannya sendiri, tanpa harus di kamar operasi. Pasca di-insisi, si bayi bisa langsung menyusui tapi mungkin biasanya ada yang masih sampai berdarah (hanya berupa tetesan kecil). Selain itu, setelah proses insisi si bayi harus menjalani senam lidah selama satu bulan agar lidahnya bisa beradaptasi dengan kondisi terbarunya. Senam lidah ini tidak perlu dilakukan di rumah sakit, namun bisa dilakukan sendiri di rumah tiga kali sehari selama sebulan. Tentu saja kita akan diajari terlebih dahulu oleh perawat dari rumah sakit atau dokter.

Setelah dilakukan insisi, akan terlihat perbedaan kondisi bayi dalam hal menyusui. Bayi akan merasa lebih “lahap” dalam menyusui dan laparnya tidak setiap setengah jam lagi, namun minimal dua jam dia baru merasa lapar kembali.  Intinya, si bayi akan menyusui dengan lebih efektif dan si ibu akan merasa lebih nyaman karena si bayi sudah bisa melakukan pelekatan dengan baik.

 

Pengalaman ini menjadi pelajaran pertama bagi saya bahwa menyusui itu ternyata tidak mudah. Kita harus terus membekali diri kita dengan berbagai pengetahuan perihal menyusui agar saat terjadi kondisi di luar dugaan kita, kita bisa secara tepat menanggapinya. Hal yang tidak kalah pentingnya juga, kita harus terus meyakinkan diri sendiri bahwa kita bisa menyusui bayi kita dengan ASI.

 

Kontributor

Selly Kartika

 

More reading:

Tongue Tie, Upper Lip Tie, Pain with Breastfeeding

About the Author
Mommy's Helper Bali Mommy’s Helper Bali (MH Bali) merupakan komunitas para ibu di Bali yang ada sejak tahun 2012, dan bertujuan untuk menjadi wadah para ibu untuk sharing dan saling membantu dalam keseharian. Website ini dibuat sebagai bentuk realisasi dari visi MH Bali agar komunitas ini dapat berguna dan menjadi pengaruh positif untuk masyarakat luas melalui informasi yang dapat diakses oleh semua pengguna internet. Artikel di website ini ditulis oleh beberapa member MH Bali. Kami juga menerima kontribusi artikel, hubungi kami untuk info lebih lanjut.

Leave A Response