Waspadai Mitos Seputar Menyusui yang Bisa Menghambat Pemberian ASI

Posted on Apr 3 2017 - 6:07pm by Mommy's Helper Bali

Mitos seputar menyusui seringkali menjadi alasan terbanyak ibu hanya menyusui bayinya dalam waktu singkat atau bahkan tidak berhasil menyusui. Ini saya banget, hehe..

Hal ini terjadi pada saya di kelahiran anak pertama. Karena waktu itu saya berpikir menyusui adalah proses yang alami dan semua ibu pasti berhasil menyusui, jadi saya santai-santai saja dan tidak mencari tahu lebih banyal soal ASI. Ternyata oh ternyata, untuk menjadi ahli, kita harus mau belajar dan punya bekal ilmu, termasuk tentang ASI dan menyusui, karena percayalah, menyusui butuh ilmu dan keahlian, bukan hanya keberuntungan.

Saat baru melahirkan, saran-saran dari keluarga atau teman dekat dapat membuat kita kebingungan dan sukses membuat putus asa, bahkan ada yang sampai memutuskan berhenti menyusui dan pakai susu formula saja karena dianggap lebih praktis dan terjamin gizinya. Ah, ini saya banget ketika melahirkan anak pertama, lagi-lagi karena minimnya pengetahuan saya tentang ASI dan menyusui.

Tapi dari pengalaman anak pertama, saya belajar banyak dan berusaha untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama saat kelahiran anak ke-2. Saya sudah membekali diri dengan banyak membaca dan diskusi tentang ASI dan hal lain yang berhubungan. Terimakasih banyak untuk komunitas Mommy’s Helper Bali dan Google yang selalu siap menjawab kegalauan saya, hehe..

Ternyata, setelah banyak membaca dan diskusi tentang ASI dan hal yang berkaitan, saya jadi sadar bahwa banyaaak sekali saran yang saya terima dari keluarga atau teman dahulu itu ternyata cuma mitos belaka, atau bekennya, “kata nenek moyang”, yang kebenarannya belum terbukti secara ilmiah.

Mitos Seputar Menyusui

Yuk, kita simak mitos apa saja yang sering kita dengar, namun terbukti tidak benar:

  1. Payudara kecil tidak memproduksi banyak ASI

Naah, lagi-lagi ini saya banget. Dulu ketika anak pertama, saya mendengar mitos ini tanpa mencari kebenarannya. Jadi deh saya yang berukuran bra cup 32A ini berkecil hati sampai akhirnya saya berhenti menyusui.

Faktanya:  produksi ASI sama sekali tidak ada hubungannya dengan ukuran payudara. Produksi ASI ini kaitannya dengan kapasitas penampungan ASI. Kapasitas ini sendiri tidak ada kaitannya dengan ukuran payudara.

Gampangnya ibu A memiliki kapasitas penyimpanan ASI 300ml, sedangkan ibu B memiliki kapasitas penyimpanan ASI 100ml. Mereka punya bayi yang sama-sama mengkonsumsi ASI 300ml selama 3 jam.

Ibu A bisa bisa memberi bayinya ASI setiap 3 jam karena kapasitas penyimpanan ASI sampai 300ml. Sedangkan ibu B yang kapasitas penyimpanannya hanya 100ml, jika menyusui bayi setiap 3 jam maka bayinya hanya akan mendapat 100ml saja. Karena itu, jika payudara penuh dan tidak dikeluarkan secara rutin, maka tubuh akan mengirim sinyal bahwa permintaan tidak banyak dan produksi jadi melambat. Namun jika ibu B menyusui bayinya lebih sering, maka kebutuhan ASI bayi 300ml akan terpenuhi dan mengirim sinyal untuk memproduksi ASI lebih cepat. Karena itu, setiap kebutuhan bayi dan ibu untuk menyusui berbeda-beda, namun tidak perlu berkecil hati.

 

  1. Bayi terus menyusu artinya bayi tidak mendapat cukup susu

Jreng ..jreeng…Kalo mendengar ada yang komen gini, rasanya langsung bikin sedih ya 🙁 Pasti kita langsung bertanya pada diri sendiri, “bener ga ya bayiku masih lapar alias tidak kenyang? ASI ku sedikit ya?” Lagi-lagi, percayalah, ini hanya mitos.

Faktanya, berikut beberapa alasan bayi terus menyusu:

  • Cluster Feeding

Adakalanya bayi akan non-stop menyusu antara 2-3 jam, terutama saat malam hari. Hal ini ternyata ada tujuannya: bayi kita sedang mengenyangkan perutnya agar bisa tidur dengan lelap dan lama pada malam hari (sekitar 3 jam) .

  • Growth Spurt

Biasanya terjadi pada hari ke 7, 21, 3 bulan, 6 bulan, bayi akan terus merasa lapar, sehingga dia butuh ASI lebih banyak dari biasa untuk menunjang pertumbuhannya. Hal ini bisa berlangsung 2-3hari, bahkan sampai ada yang 1 minggu. Hal ini tujuannya memberi sinyal tubuh kita bahwa bayi membutuhkan ASI lebih banyak. Di akhir masa growth spurt, produksi ASI kita akan bertambah menyesuaikan kebutuhan bayi kita.

 

  1. Hasil pompa sedikit berarti produksi ASI kita sedikit

Ketika awal pumping (pompa), saya cuma dapat 15 ml! Duuuh, cuma 15ml dari 30 menit mompa, pastinya saya langsung berpikir, “Apa iya produksi ASI saya sesedikit ini? Mana kenyang bayi saya.” Hiiks….sediiih….

Faktanya: Hasil pompa ASI tidaklah mencerminkan produksi ASI kita. Hasil pompa yang kita peroleh adalah setengah, atau bahkan mungkin sepertiga dari produksi ASI kita.

Nyatanya, yang paling ahli mengosongkan payudara adalah hisapan bayi, maka banyak ahli yang menyarankan untuk memberi ASI secara langsung ke bayi sesering mungkin sesuai keinginan bayi. Semakin sering payudara dikosongkan ( baik di susukan secara langsung atau di pompa ) maka akan semakin cepat di produksi ASI lagi, Karena kita mengirim sinyal bahwa permintaan ASI banyak.

 

  1. Payudara lembek = tidak berisi banyak ASI.

Faktanya:  payudara lembek adalah tanda bahwa payudara dikosongkan secara teratur dan hal ini akan memberi sinyal pada tubuh bahwa permintaan ASI banyak, sehingga ASI akan cepat diproduksi kembali. Semakin sering kita memancing let down reflex (LDR), maka ASI yang keluar akan semakin banyak pada saat menyusui atau memompa.

 

  1. Buatlah jadwal menyusui karena payudara butuh waktu untuk mengisi ASI ulang

Faktanya:  payudara kita memporduksi ASI setiap saat, tergantung dari stimulasi yang diterima. Jika bayi menyusu pada saat payudara kosong, maka ini akan memberi sinyal tubuh untuk memproduksi ASI dan meningkatkan produksi ASI.

Jadi kesimpulannya, semakin sering payudara dikosongkan, maka semakin cepat ASI diproduksi.

 

Masih banyak lagi mitos-mitos lain yang beredar dan sering kita dengar ya, sehingga boleh banget kalau daftar mitos di atas mau ditambah, hehe.. Tapi menjadi ibu bukan berarti berhenti belajar, justru kita harus makin giat belajar dan berbagi, agar tidak termakan mitos-mitos yang hanya bermodal “kata nenek moyang”. 🙂

“Keep learning, keep sharing!”

 

Baca artikel ASI & MPASI lainnya.

 

Kontributor

Rika Krisdiana, ibu dua orang anak super, fabric crafter yang kebetulan masih kerja kantoran dan sesekali menulis tentang apa saja.

About the Author
Mommy's Helper Bali Mommy’s Helper Bali (MH Bali) merupakan komunitas para ibu di Bali yang ada sejak tahun 2012, dan bertujuan untuk menjadi wadah para ibu untuk sharing dan saling membantu dalam keseharian. Website ini dibuat sebagai bentuk realisasi dari visi MH Bali agar komunitas ini dapat berguna dan menjadi pengaruh positif untuk masyarakat luas melalui informasi yang dapat diakses oleh semua pengguna internet. Artikel di website ini ditulis oleh beberapa member MH Bali. Kami juga menerima kontribusi artikel, hubungi kami untuk info lebih lanjut.

Leave A Response