Optimistic Parenting: Melihat Anak Dengan Hati

Posted on Mar 7 2017 - 1:37pm by Mommy's Helper Bali

“Apakah gelas ini setengah kosong, atau setengah penuh?” adalah satu dari 60 pertanyaan di lembar tes psikologi untuk ‘menemukan’ satu posisi calon kepala divisi dari empat orang staff berprestasi di sebuah perusahaan beberapa minggu lalu.

Optimistic Parenting

(c) www.babysitting.academy

Secara logika, kedua pilihan jawaban itu benar. Kita boleh mengatakan gelas itu setengah kosong. Namun bila jawaban yang dipilih setengah penuh, mengindikasikan bahwa orang tersebut mampu menemukan, melihat dan menggunakan peluang positif yang ada sekecil apapun itu di tengah-tengah himpitan masalah dan persoalan yang timbul.

 

Sudut Pandang Kita Melihat Seorang Anak

Tes itu untuk menguji apakah seseorang cenderung optimis atau pesimis. Kenyataannya, kedua jawaban itu terasa ‘menyentil’ jika dipakai untuk melihat kondisi hati kita sebagai orangtua akhir-akhir ini. Seorang anak kadang kita lihat ‘setengah kosong’. Hal ini kita lihat dari sudut pandang: segala hasil yang diperoleh anak saat ini, dia tidak menorehkan kebanggaan seperti yang dilakukan oleh anak rekan, tetangga ataupun kerabat yang berprestasi itu.

Sebagai orangtua yang sudah mati-matian mengusahakan segalanya, kita berhak untuk merasa kecewa, apalagi optimisme bukan merupakan perilaku bawaan sejak lahir. Seseorang harus dengan sengaja berlatih mengarahkan fokus dan perhatiannya kepada hal-hal (positif) yang dapat dilakukan, membangun kembali impian dan harapan baru setiap kali kegagalan kecil maupun besar menghempas. Ini adalah bagian dimana gelas itu dilihat ‘setengah terisi’.

 

Optimistic Parenting

“Mencoba melakukannya lagi, mengulang lagi dari awal dengan semangat berlipat akan selalu mampu mengubah dan pasti membawa hasil dan kemajuan walaupun kecil”

Rasanya frasa ini lebih mudah untuk diucapkan daripada dilakukan. Tetapi toh kita tetap harus mampu bersikap optimis dengan melihat bahwa gelas itu sebenarnya setengah penuh, dan bukan setengah kosong. Kita seharusnya berfokus pada apa yang dapat kita lakukan, kita berlatih untuk mampu mengendalikan diri dan keadaan.

 

Anak Belajar dari Orang Tua

Jika kita berfokus pada hal-hal yang tidak mampu kita lakukan, maka kita akan merasa seperti seseorang yang lepas kendali. Perasaan negatif yang muncul secara tidak sadar tertularkan kepada orang orang di dekat kita, yakni orang-orang yang kita cintai, terutama anak. Karena anak-anak belajar dari lingkungannya, mereka berlatih mengarungi riak-riak kehidupan ini bersama dengan orangtua.

Pandangan dan perilaku optimis itu diperoleh melalui latihan. Marilah dengan sengaja berlatih mengarahkan fokus dan perhatian untuk mampu menemukan, melihat dan menggunakan peluang positif yang ada sekecil apapun itu di tenga- tengah himpitan masalah dan persoalan yang timbul saat ini.

Baca juga serial artikel parenting kami di tautan ini.

 

Kontributor

Lies Budyana, Ibu dua anak remaja, adalah mantan guru dan kepala sekolah dengan latar belakang pendidikan magister Psikologi yang mengabdikan hidupnya bagi kesuksesan setiap keluarga Indonesia

About the Author
Mommy's Helper Bali Mommy’s Helper Bali (MH Bali) merupakan komunitas para ibu di Bali yang ada sejak tahun 2012, dan bertujuan untuk menjadi wadah para ibu untuk sharing dan saling membantu dalam keseharian. Website ini dibuat sebagai bentuk realisasi dari visi MH Bali agar komunitas ini dapat berguna dan menjadi pengaruh positif untuk masyarakat luas melalui informasi yang dapat diakses oleh semua pengguna internet. Artikel di website ini ditulis oleh beberapa member MH Bali. Kami juga menerima kontribusi artikel, hubungi kami untuk info lebih lanjut.

Leave A Response