Resiliensi Anak: Kemampuan yang harus Dipupuk sejak Dini

Posted on Jul 3 2018 - 12:49pm by Titin Isyana

Dalam mendidik anak tangguh, diperlukan kemampuan untuk beradaptasi dan tetap teguh dalam situasi sulit yang perlu diajarkan dan dilatih sejak dini: resiliensi anak. Mengapa melatih resiliensi merupakan hal penting? Karena seseorang yang resiliensinya rendah akan mudah putus asa dan tidak menutup kemungkinan untuk memilih jalan pintas seperti bunuh diri, misalnya.

Resiliensi Anak

(c) http://madetolead.com/resilience-the-greatest-and-fiercest-of-companions/

Hidup akan semakin banyak tantangan seiring berjalannya waktu dan resiliensi akan memampukan seseorang seperti bola bekel, yang akan melenting lebih tinggi ketika dijatuhkan. Tantangan yang kita hadapi saat ini, pekerjaan, rumah tangga, ekonomi maupun kesehatan, diizinkan Tuhan menghampiri hidup kita untuk mengasah dan meningkatkan resiliensi. Jangan pernah putus asa. Tengoklah ke belakang, bukankah di masa lalu berbagai kesulitan mendera hidup dengan hebatnya? Toh hari ini kita tetap ada.

Yang menjadi tantangan orang tua adalah bagaimana dengan anak-anak kita, apakah mereka akan setangguh kita dalam menghadapi kehidupan mereka kelak? Mengingat resiliensi merupakan sebuah kecakapan hidup yang tidak diwariskan dan tidak diperoleh secara alamiah namun dibangun dari pengajaran dan latihan, orang tua perlu membentuknya dalam diri anak-anak.

 

Cara Membangun Resiliensi Anak

Berikut adalah beberapa hal yang bisa kita lakukan dalam membangun resiliensi anak:

  1. Melatih anak menahan diri

Jangan terlalu mudah memberikan hadiah ataupun sesuatu yang diminta oleh anak. Hilang? Jangan segera dibelikan lagi. Rusak sedikit? Jangan langsung diganti dengan yang baru. Buatlah anak menunjukkan usahanya mencari barang tersebut atau mengusahakan untuk mendapatkan yang baru. Intinya, anak harus memahami bahwa: seorang pekerjalah yang patut mendapat upah.

  1. Jangan mengobral pujian

Pujian memang dibutuhkan. Pujian adalah vitamin bagi jiwa namun terlalu banyak pujian juga tidak baik. Pujilah karena pencapaiannya atau atas usaha dan kerja keras yang sudah dilakukannya bukan karena keadaan fisiknya atau yang diperolehnya dengan cuma-cuma.

  1. Mendampingi anak menghadapi tantangan

Temani anak menghadapi setiap tantangan dan masalahnya, agar anak dapat menguatkan hati dan mampu mengatasinya. Perlu diingat mendampingi bukan berarti mengambil alih atau mengenyahkan tantangan tersebut.

 

Contoh Kasus Resiliensi pada Anak

Semoga beberapa cerita di bawah ini dapat digunakan sebagai gambaran:

A. Seorang ibu menjemput putranya yang duduk di TK A. Dari luar gerbang sekolah ibu ini dapat melihat siswa-siswi TK A memegang balon berwarna warni. Wah, mungkin ada yang berulang tahun. Ibu ini dapat pula melihat wajah muram putranya yang memegang balon berwarna kuning. Si ibu paham betul karena warna favorit si kecil adalah warna merah. Benar saja, begitu si anak menghampirinya, langsung titik air mata bergulir di pipi mungil si kecil.

Ada dua skenario yang dapat terjadi:

Skenario 1: Ibu menghampiri guru dan menanyakan apakah masih ada sisa balon warna merah untuk ditukar dengan balon kuning si kecil. Bila tidak ada, dalam perjalanan pulang ibu akan mampir ke toko membeli balon warna merah (berapa sih harga sebuah balon untuk mengembalikan keceriaan si kecil!). Bila skenario 1 ini yang dilakukan, resiliensi anak tidak dikembangkan.

Skenario 2: Ibu dengan tenang dan berwajah ceria menghampiri si kecil sembari berkata, “Wah… bagus sekali balonnya, siapa yang hari ini ulang tahun?” Ketika si kecil merengek minta balon warna merah karena ada siswa lain yang memegang balon warna merah, ibu dapat berkata, “Bagus loh warna kuning, seperti warna matahari. Jadi tidak usah tukar ya, warna kuning juga bagus.” Bila skenario 2 ini yang dilakukan, resiliensi anak dipupuk dan dikembangkan.

 

B. Beberapa hari sudah seorang pelajar yang duduk di kelas V SD berjuang dengan gigih menghafalkan dialog drama, bahkan hingga mengorbankan waktu bermainnya, agar ketika audisi terpilih sebagai pemeran utama. Namun harapan tidak sesuai kenyataan. Walaupun sudah berjuang keras sedemikian rupa menghafalkan dialog, si anak tidak terpilih sebagai pemeran utama. Anak kecewa, sedih hingga menangis.

Ada dua skenario yang dapat dilakukan orang tua:

Skenario 1: Orang tua mendatangi guru kelas, bila perlu malah kepala sekolah atau ketua yayasan sekolah yang merupakan teman ayahnya untuk meminta putranya diberikan peran utama di drama sekolah – mengingat betapa keras putra sudah berusaha dan betapa hancur hati orangtua menyaksikan kekecewaan dan kesedihan anak. Bila skenario 1 ini yang dilakukan, resiliensi anak tidak dibentuk.

Skenario 2: Orang tua melakukan perbincangan panjang dengan si anak bahwa sang guru pasti memiliki pertimbangan tertentu dengan memilih anak lain sebagai pemeran utama. Bukan berarti anak yang terpilih itu kemampuannya lebih rendah dari si anak; dan bukankah masih akan ada banyak kesempatan lain untuk tampil dan berprestasi di berbagai acara, tidak hanya drama itu. Ada berbagai macam hal pembicaraan lain dengan si anak sampai si anak mampu menerima dan mengatasi kekecewaan dan kesedihannya. Bila skenario 2 ini yang dilakukan, resiliensi anak ditingkatkan.

 

C. Seorang gadis di kelas XI terkejut melihat sebuah unggahan foto di sosial media teman-teman se-gank nya sedang berkumpul bersama di café, tanpa dirinya. Rupanya dia tidak diajak, demikian curhatnya ke ibu yang dilanjutkan dengan mengurung diri di kamar.

Ada 2 skenario yang dapat dilakukan ibu:

Skenario 1: Menulis WA ke ibu teman anaknya untuk menanyakan kenapa anaknya tidak diajak. Menyarankan anaknya untuk tidak lagi bermain dengan grup itu dan mencoba menjalin pertemanan baru dengan teman-teman yang lain. Bila skenario 1 yang dilakukan, Resiliensi anak tidak ditingkatkan.

Skenario 2: Ibu mengajak putrinya berbincang bincang dan menyarankan untuk tetap menjalin kontak dengan gank nya itu seperti biasa. Menemui mereka dan bersikap biasa. Pastilah kemudian salah satu atau teman temannya itu akan menyatakan kenapa tidak mengajaknya. Tidak mengajak satu kali, bukan berarti ada yang salah dengan dia dan teman-temannya itu tidak mau berteman dengannya lagi. Walaupun teman-temannya itu adalah teman dekat, namun tidak harus selalu bepergian bersama. Sesekali tidak dengannya itu masih wajar. Karena selain mereka, teman-teman dan dia sendiri juga memiliki puluhan bahkan ratusan teman lain, kan. Bila skenario 2 ini yang dilakukan, resiliensi anak akan meningkat.

 

D. Seorang gadis yang menyelesaikan studi S1 nya dengan sangat baik hingga meraih predikat Cumlaude. Selain itu, dia memperoleh kesempatan melakukan sebuah misi sosial untuk tanah air. Dia berusaha memperoleh beasiswa luar negeri untuk tingkat S2 dari sebuah lembaga ternama. Selain rekomendasi atas bakti sosialnya, dia mampu hampir menyelesaikan seluruh proses seleksi dengan baik. Hal ini memberikan keyakinan padanya untuk meraih beasiswa tersebut. Namun harapan tidak sesuai dengan kenyataan. Wawancara terakhir membuatnya gagal memperoleh beasiswa tersebut.

Hingga 2 tahun kemudian, beasiswa dari penyelenggara yang lain dapat diperolehnya setelah tetap mencoba dan menghadapi segala tantangan. Gadis ini memiliki resiliensi yang tinggi untuk gigih mencoba, tidak mudah terpuruk atau kecewa.

 

Mari kita bersama bergandengan tangan melatih anak-anak kita memiliki resiliensi untuk bekal masa depannya nanti.

 

Disadur dari artikel “Resiliensi” oleh dra. Lies Budyana

Dra. Lies Budyana adalah ibu dua anak remaja, adalah mantan guru dan kepala sekolah dengan latar belakang pendidikan magister Psikologi yang mengabdikan hidupnya bagi kesuksesan setiap keluarga Indonesia.

About the Author
Titin Isyana Titin adalah penggagas komunitas Mommy's Helper Bali, yang juga seorang penulis lepas di salah satu agensi penulis artikel. Di waktu senggangnya ia gemar membaca buku, menonton film bersama suami, dan menemani putri semata wayangnya bermain.

Leave A Response