Sensory Play untuk Bayi dan Anak yang Mudah

Posted on Jul 11 2016 - 2:16pm by Mommy's Helper Bali

Sensory play untuk bayi dan anak tidaklah sesulit yang dibayangkan. Banyak ibu yang tidak menyadari bahwa menstimulasi indera si kecil tidaklah serumit ataupun sekompleks yang dikira, namun dapat dilakukan dengan mudah, sederhana melalui berbagai kegiatan sehari hari. Berbagai kegiatan normal yang kita lakukan bersamanya dapat memberi manfaat yang besar untuk mengoptimalkan perkembangan intelegensi, kecakapan hidup maupun kecerdasan mentalnya melalui stimulasi indera.

Sensory Play untuk Bayi dan Anak

(c) Mia Aristanti

Beragam kegiatan tersebut di antaranya adalah :

Sensory Play Saat Makan

Si kecil menggunakan sentuhan untuk mengeksplorasi tekstur makanan: Proprioception (*) untuk membawa makanan ke mulutnya ( tidak nyasar ke hidung, rambut atau tempat lain ), serta bau dan rasa untuk mengidentifikasi berbagai jenis makanan; Vestibular (**) untuk duduk tegak selama makan.

Jadi ijinkanlah si kecil untuk menyentuh, menggenggam sendiri peralatan makan dan makanannya bahkan makan dengan tangannya sendiri. Walaupun nantinya akan berceceran dan membuat kotor sekitarnya. Tidak ada patokan usia yang tepat kapan si kecil sudah boleh berlatih makan sendiri, asalkan dia sudah dapat duduk tegak maka sudah boleh mulai berlatih makan sendiri. Ibu tidak perlu khawatir si kecil akan kelelahan ataupun duduk terlalu lama akan berakibat buruk bagi tulang punggungnya yang masih sangat muda. Si kecil akan memberi sinyal ingin berhenti dengan rengekannya bila dia sudah kelelahan duduk, kenyang ataupun bosan.

Wah . . . tak pernah terpikir sebelumnya ya, bahwa makan sendiri merupakan kegiatan “sensory play” bagi si kecil. Serta banyak pula manfaatnya, bukan hanya melatih fisik dan kemandirian, namun juga menstimulasi sensori untuk peningkatan intelegensi.

 

Sensory Play Saat Mandi

Seringkali pula kita tidak menyadari bahwa momen mandi juga merupakan waktu yang tepat untuk sensory play dengan menggunakan semua kegiatan yang berhubungan dengan air. Si kecil pasti akan menggerakkan tangan dan kakinya di dalam air, berkecipak kecipak, menjejak kan kaki di air membutuhkan tekanan dan dorongan otot yang berbeda dengan ketika menjejakkan kaki ke udara. Si kecil juga akan berusaha untuk menangkap dan memegang buih sabun yang akan membantunya untuk berlatih menempatkan porsi gerak tubuhnya sesuai dengan skalanya. Karena cara dan ukuran kekuatan untuk memegang sendok dan menyentuh gelembung sabun sangatlah berbeda. Selain itu, si kecil juga merasakan licinnya sabun yang membalur tubuhnya serta merta dia juga akan mengerahkan kemampuannya utk tidak terperosot oleh licinnya sabun. Wah . . . mandi ternyata bukan hanya urusan kebersihan dan kesehatan namun juga kegiatan pembelajaran dan bermain yang menyenangkan

 

(*) Proprioception adalah kemampuan tubuh (yang dikendalikan otak) mengenali ruang gerak dan posisi anggota tubuh melalui sensor system syaraf. Contoh hasil akhirnya: Bila tiba tiba kita terpeleset dan jatuh ke arah depan, otak secara “Auto pilot” memerintahkan penempatan posisi tangan segera maju terlebih dahulu untuk menghindari luka yang lebih parah terhadap kepala atau otak, dan itu terjadi sepersekian detik. Kemampuan ini membutuhkan latihan yang berulang, berulang dan berulang. Oleh karena itulah, semakin muda usia si kecil, semakin sering jatuh ataupun terantuk. Dengan semakin bertambahnya usia, diharapkan semakin jarang jatuh ataupun terantuk. Namun kenapa, ada dua bayi dengan usia yang sama, yang satu lebih sering jatuh dibandingkan yang lainnya. Jawabannya sudah jelas seberapa banyak si bayi ‘diijinkan” melatih proprioceptionnya? Atau bayi terlalu dilindungi dengan lebih banyak digendong, sangat dijaga untuk tidak jatuh ataupun terantuk.

(**) Vestibular adalah sistem dalam tubuh yang bertanggung jawab untuk menjaga keseimbangan, postur, dan orientasi tubuh dalam ruangan.

 

Sensory Play untuk Bayi dan Anak

Nah, jadi sudah jelas kan, bahwa sensory play untuk bayi dan anak dapat dilakukan melalui kegiatan sehari-hari, tidak perlu alat yang rumit dan sulit. 🙂

 

Kontributor

Lies Budyana, Ibu dua anak remaja, adalah mantan guru dan kepala sekolah dengan latar belakang pendidikan magister Psikologi yang mengabdikan hidupnya bagi kesuksesan setiap keluarga Indonesia

 

Baca artikel sebelumnya: Ragam dan Cara Stimulasi Indera Bayi.

About the Author
Mommy's Helper Bali Mommy’s Helper Bali (MH Bali) merupakan komunitas para ibu di Bali yang ada sejak tahun 2012, dan bertujuan untuk menjadi wadah para ibu untuk sharing dan saling membantu dalam keseharian. Website ini dibuat sebagai bentuk realisasi dari visi MH Bali agar komunitas ini dapat berguna dan menjadi pengaruh positif untuk masyarakat luas melalui informasi yang dapat diakses oleh semua pengguna internet. Artikel di website ini ditulis oleh beberapa member MH Bali. Kami juga menerima kontribusi artikel, hubungi kami untuk info lebih lanjut.

Leave A Response