Usia Ideal Anak Masuk PAUD

Posted on Jun 18 2016 - 11:56am by Mommy's Helper Bali

Usia ideal anak masuk PAUD seringkali dipertanyakan. “Kapan anak saya bisa membaca, menulis dan berhitung?” adalah salah satu pertanyaan yang seringkali ditanyakan oleh banyak orang tua. Namun, penelitian ilmiah dan pengamatan pakar mengenai pendidikan usia dini mengatakan bahwa: Earlier is not better.

Usia Ideal Anak Masuk PAUD

(c) Mia Aristanti

 

Sebagai seorang pendidik dan pemilik sekolah PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini), saya sering ditanya mengenai metode pembelajaran akademik anak terutama dalam kemampuan membaca, menulis dan berhitung. Seringkali juga saya melihat anak yang didorong untuk menguasai ketrampilan akademis pada usia yang cukup dini. Semakin dini, semakin baik, semakin pintar. Anak-anak di bawah usia lima tahun diharapkan bisa duduk diam melakukan ketrampilan merata yang diatur ketat oleh pendidik, mengerjakan worksheet demi worksheet, teknik yang dikenal dengan direct teaching. Beberapa bahkan dibebani dengan berbagai tes yang mengukur inteligensia dan talenta mereka.

Pandangan Para Pakar

Sementara penelitian ilmiah dan pengamatan berbagai pakar psikolog serta pendidik terkemuka dunia mengatakan sebaliknya. Penulis Your Child’s Growing Mind, psikolog pendidikan Jane Healy, menemukan bahwa mendorong anak dengan teknik belajar yang tidak tepat terlalu dini tidak hanya salah tapi bisa merusak kemampuan otak mereka: “Reading problems can be created by forced early instruction”. Pakar psikolog perkembangan anak dunia, Jean Piaget, melalui penelitiannya menemukan pendidikan akademis formal tidak pantas dimulai oleh anak dibawah usia 7 tahun. Magda Gerber, seorang pendidik usia dini ternama, mendunia karena penelitiannya yang bertajuk “Earlier is not better”.

Apakah Anak Benar Mengerti?

Penelitian yang dilakukan oleh Gesell Institute for Child Development menemukan pencapaian tumbuh kembang anak tidak berubah selama 100 tahun terakhir. Contohnya, anak pada umumnya belum bisa memproses garis miring pada bentuk segitiga hingga usia 5 dan 5 1/2 tahun. Ketrampilan ini adalah kemampuan penting dalam pengenalan, pengertian dan cara menulis alfabet tertentu, seperti huruf A. Kunci untuk mengerti konsep seperti pengurangan atau penambahan adalah “konservasi nomer”. Seorang anak mungkin mampu untuk menghitung 5 benda secara terpisah tapi belum bisa mengerti bahwa secara keseluruhan benda tersebut berjumlah lima. Anak usia 5 1/2 dan 6 tahun pada umumnya tidak mampu mengkonservasi nomer untuk mengerti pengurangan dan penambahan. Ketika kita mengajarkan anak calistung sebelum mereka siap, mereka mungkin mampu mengingat dan menghafal ketrampilan ini, tapi mereka tidak akan belajar atau mengerti kemampuan tersebut dan, menurut penelitian 2011 itu, tidak akan membantu mereka mencapai prestasi di kemudian hari kelak.

Lalu kenapa kita masih mendorong dan bahkan memaksa anak-anak untuk mendapatkan pembelajaran tidak tepat seperti instruksi formal terarah pada usia dini, walaupun begitu banyak penelitian ilmiah dan pengamatan pakar yang mengatakan sebaliknya?

Yang saya sadari adalah setiap orang tua ingin yang terbaik bagi anaknya. Yang menjadi salah kaprah adalah persepsi “jika anak saya mendapat pendidikan formal sedini mungkin, maka kemungkinan mereka masuk dalam peringkat-peringkat teratas dan terbaik akan semakin tinggi”. Ini menjamin masa depan yang cerah. Tapi apakah nilai dan prestasi akademik jaminan masa depan cerah?

Usia Ideal Anak Masuk PAUD

Setiap anak unik. Setiap anak belajar dengan cara mereka masing-masing dengan waktu yang berbeda-beda. Ketika anak diberikan metode pendidikan yang tidak sesuai dengan umur mereka, maka mereka merasa dipaksa, lalu mengakibatkan kebingungan, kehilangan percaya diri dan tiba- tiba mereka membenci sekolah, dan bahkan benci belajar. Padahal kemampuan kita untuk terus belajar dan haus akan pengetahuan adalah kunci yang membantu setiap manusia untuk terus berkembang dan menjadi maju. Saya rasa tidak ada orang tua yang ingin anak kita menjadi seperti ini.

Dari semua penelitian yang ditemukan adalah setiap anak bergerak dengan jadwal mereka masing-masing. Beberapa balita belajar jalan dulu, sementara balita lainnya belajar berbicara dahulu — apakah yang satu lebih baik dari yang lain? Beberapa anak mulai mengenali huruf dan kata-kata pendek pada usia 4 tahun, sementara yang lain tidak bisa membaca hingga ketika mereka hampir berusia 7 tahun. Apakah yang satu lebih baik dari yang lain? Kenyataannya, pada usia berapa kita bisa membaca, menulis, berhitung tidak mempengaruhi kemampuan kita sebagai orang dewasa, bukan?

“Earlier is not Better”

Marilah kita mulai mendengarkan dan menerapkan penelitian ilmiah dan pengamatan para pakar anak yang telah membuktikan selama bertahun-tahun bahwa “Earlier is not better.” Sudah waktunya kita tinggalkan penerapan pengalaman pribadi mengenai pendidikan dan meninggalkan pernyataan seperti “Saya selalu mendidik seperti itu”, “Saya suka anak saya menjadi seperti ini”, “Tidak ada yang tahu anak saya seperti insting saya”.

Inilah waktunya untuk menerapkan bukti penelitian ilmiah bagaimana anak belajar. Kita perlu berhati-hati mendekati metode belajar anak karena tren pendidikan tertentu, tapi menggunakan penelitian dan observasi klinis oleh pakar pendidikan anak dalam hal tumbuh kembang mereka, bagaimana otak mereka bekerja dan apa yang mereka butuhkan untuk belajar secara holistik. Kita perlu memperkenalkan lebih banyak lagi bukti dan penelitian ilmiah dalam bagaimana kita mendidik dan mengembangkan kemampuan anak, dan mengurangi pengalaman pribadi apa yang kita suka dan tidak sukai.

Jadi apakah penemuan umum dan pengamatan pakar pendidik dan psikolog dunia mengenai anak? Let them play! Biarkan anak-anak menemukan talenta mereka masing-masing tanpa terburu-buru, dan lihatlah anak Anda berkembang dan memenuhi potensi mereka sepenuhnya.

“Earlier is not better. All children accomplish milestones in their own way, in their own time.” – Magda Gerber

Kontributor

Sabrina Tumewu, LL.B, B.A (Med&Comm), PGCertPT, adalah seorang ibu yang selalu haus akan ilmu dan pengalaman mengenai parenting. Setelah 10 tahun berkecimpung di dunia hukum dan media komunikasi di Australia dan bekerja dengan institusi bereputasi internasional seperti ABC (Australian Broadcasting Corporation), Australia-Indonesia Centre dan Monash University, Sabrina dan suaminya pindah ke Bali untuk cuaca tropis yang bersahabat untuk anaknya. Kepeduliannya yang berawal dari anaknya memicu ketertarikannya akan pendidikan anak dan parenting. Dia kemudian beralih profesi menjadi terapis bermain dan pendidik. Bersama suaminya yang memiliki pengalaman di dunia pendidikan Australia selama lebih dari 12 tahun, dia membuka Sekolah Stella Mundi yang memberikan pendidikan holistik dan terintegrasi di daerah Renon.

 

About the Author
Mommy's Helper Bali Mommy’s Helper Bali (MH Bali) merupakan komunitas para ibu di Bali yang ada sejak tahun 2012, dan bertujuan untuk menjadi wadah para ibu untuk sharing dan saling membantu dalam keseharian. Website ini dibuat sebagai bentuk realisasi dari visi MH Bali agar komunitas ini dapat berguna dan menjadi pengaruh positif untuk masyarakat luas melalui informasi yang dapat diakses oleh semua pengguna internet. Artikel di website ini ditulis oleh beberapa member MH Bali. Kami juga menerima kontribusi artikel, hubungi kami untuk info lebih lanjut.

Leave A Response